Selamat datang di web kuliahgratis.net

Categories

Archives

Asy’ariyah Gen Ahlussunnah wa al-Jama’ah

Asy’ariyah sebagai aliran teologi, yang dibangun oleh seorang ulama besar yaitu Abu Hasan al-Asy’ariy, beliau sendiri sebelumnya adalah murid al-Jubba’i, seorang pendiri aliran Muktazilah. Dari bimbingan ke-muktazilah-an, al-Asy’ariy banyak mendapatkan, utamanya, ilmu keislaman dan logika, dan karena kredibilitas keilmuannya telah diakui oleh sang guru, al-Asy’ariy sering dipercayakan menggantikan sang guru untuk memberikan pelajaran. Tetapi kemudian, al-Asy’ariy keluar dari barisan Muktazilah, selanjutnya menjadi tokoh yang dengan gigih menentang faham rasional Muktazilah.
Silang pendapat tentang berbaliknya al-Asy’ariy dari aliran Muktazilah, satu pendapat, karena perdebatan antara guru dan murid, mimpi bertemu dengan Nabi saw, pendapat lain  menyatakan al-Asy’ariy kecewa karena faham rasional Muktazilah sudah tidak lagi sesuai dengan situasi pada saat itu.
Terlepas dari soal sesuai atau tidak, al-Asy’ariy keluar dari Muktazilah dengan fakta sejarah, maka sisi lain dapat dapat diungkapkan bahwa al-Asy’ariy mengalami rasa skeptis dan ketidakpercayaan lagi pada kekuatan dan kemampuan akal (rasio).
Setelah keluar dari barisan Muktazilah, al-Asy’ariy menyusun teologi “baru”, yang dilandasi atas pemikiran salafiyah dalam bingkai dialektika rasional. Karena keberpihakannya terhadap sunnah, belakangan pengikutnya menamakan diri sebagai Ahl al-Sunnah, kemudian menjadi kelompok yang mayoritas, maka dikenallah Ahlusunnah wa al-Jama’ah.
Asy’ariyah Sebagai Ahlu Sunnah wa al-Jamaah
Sebagai pelopor faham Asy’ariyah, Abu Hasan al-Asy’ariy tampil bersamaan dengan konsolidasi faham sunnah, dengan pembukuan hadis yang telah mendekati tahap penyelesaiannya.
Meskipun apa yang disebut sebagai konsolidasi faham sunnah dalam Islam, sebenarnya tidak merupakan bagian dari sejarah teologi Islam, namun mempunyai arti penting dalam perkembangan teologi Islam. Tampilnya Ahmad bin Hanbal sebagai pelopor paham Sunni, memberi nuansa baru pola pemikiran masyarakat,dengan mengagungkan al-Qur’ân dan sunnah Nabi saw  yang sering dikenal sebagai faham ortodoks.
Walaupun al-Asy’ariy mengokohkan dirinya sebagai teolog yang ingin mempertahankan bangunan teologi dalam alur argumentasi filosofis dan logis, ia berusaha menyuguhkan pandanganya dengan membuat sintesis antara pandangan ortodoks (salaf) dan pandangan rasional Muktazilah. Tetapi kenyataannya, ia mengkritik Muktazilah bahkan mengoreksi hampir seluruh pandangan rasional Muktazilah.
Al-Asy’ariy dengan teologi barunya, menyatakan bergabung dengan faham sunni yang dipelopori oleh Imam Ahmad bin Hanbal, yang sering diisyaratkan sebagai “ahl al-Hadis”, yang condong kepada salaf, dan tentu saja berfaham sunnah, suatu aliran yang sangat gigih menentang rasional Muktazilah sebelum al-Asy’ariy. Sebutan ini diberikan, karena apabila menghadapi suatu peristiwa khususnya ayat mutsyabihat dan bila ternyata tidak mendapatkan solusi penyelesaiaannya, maka mereka diam saja, tanpa berusaha untuk memberikan ta’wilan pada ayat tersebut.
Setelah bergabung dan memberikan gagasannya, al-Asy’ariy kemudian memberikan dukungan, hal ini yang oleh pengikutnya (Asy’ariyah) disebut sebagai faham “Ahl Sunnah”, karena berkeyakinan bahwa apa yang mereka yakini dan pahami berdasarkan warisan Rasulullah saw. atau sesuai dengan sunnah Nabi Saw, kemudian dilanjutkan oleh para sahabat, tabiin selanjutnya sampai kepada generasi ulama mutaqaddimin dan seterusnya. Oleh karena dianut oleh mayoritas kaum muslimin, merekapun dinamakan “al-Jamaah”,maka term ini dirangkai dengan penyebutan “Ahlu Sunnah wa al-Jamaah”.
Penyebutan term ini, tampak oleh para pengikutnya secara terang-terangan menulis dalam hasil karya mereka, seperti al-Baqillani, al-Juwaini, al-Baqdadi, al-Gazaliy, al-Razi dan sebagainya.
Seperti yang disinggung sebelumnya, al-Asy’ariy tampil bersamaan dengan konsolidasi faham sunni, masyarakat mengalihkan perhatiannya pada sunnah Nabi saw yang berdampak pemikiran rasional Muktazilah kurang diselami oleh awam, dan mendapat dukungan dari pemerintah terutama khalifah al-Mutawakkil yang dengan membatalkan aliran Muktazilah sebagai mazhab negara. Pada akhirnya Muktazilah menjadi kelompok yang minoritas, dan Ahlusunnah menjadi kelompok yang mayoritas.
Setelah al-Asy’ariy dengan faham sunni, merasa telah mendapat dukungan yang mayoritas, kemudian menyebarkannya tidak hanya terbatas pada bidang teologi saja, tetapi konsolidasi faham sunni juga pada bidang hukum (fiqh), dikenallah empat imam mazhab Abu Hanifah, Malik bin Anas, Ahmad bin Hanbal dan Imam Syafi’I dalam bidang fiqih, bidang tasauf tampillah Imam al-Ghazali, bahkan dalam bidang politik dapat dirujuk pada tokoh al-Mawardi dan Ibnu Taimiyah. Bidang terakhir disebutkan politik yang membedakan dengan faham Syi’ah dan Sunni.
Pada perkembangan selanjutnya, faham Sunni yang notabene adalah Asy’ariyah telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, sehingga para pengikutnya disatu sisi mereka sependapat, dan disisi lain mereka berseberang pendapat, terutama pada konsep “Kasb” (perbuatan manusia) al-Asy’ariy, bahkan lebih condong pada penggunaan akal dan mendekati rasional Muktazilah.
Kepustakaan:
Ahmad Amin, Duha al-Islam, Beirut: Dar al-Fikr, 1989. W. Montgomery Watt, Islamic Theology and Philosophy, diterjemahkan Umar Basalim dengan judul “Pemikiran Teologi dan Filsafat Islam”, Jakarta: P3M, 1987. A. Hanafi, Pengantar Teologi Islam. Jakarta: Jaya Murni, 1967. Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Perdaban, Jakarta: Yayasan Waqaf Paramadina, 1992. Mahmud Qasim, Dirasat fi al-Falsafah al-Islamiyan. Mesir: Dar al-Ma’arif, 1973. Ibrahim Madkour, Fi al-Falsafah al-Islamiyah; Manhaj wa al-Tatbiq, ditrjemahkan oleh Yudhian Wahyudi dengan judul “Aliran dan Teori Filsafat Islam” Jakarta: Bumi Aksara, 1995. Harun Nasution, Teologi Islam; Aliran-aliran, Sejarah analis perbandingan, Jakarta: UI-Press, 1996. Said Agil Siradj, Ahlusunnah Waljamaah dalam Lintasan Sejarah, Jogyakarta: LKPSM, 1997.

Referensi Makalah tentang Qiyas

Qiyas berasal dari kata: قاس – يقوس – قوسا, berarti: mengukur, membandingkan sesuatu dengan yang lain. Qiyas dapat juga diartikan dengan analogi. Sebuah perinsip untuk menerapkan hukum yang terkandung dalam al-Qur’an, ketetapan sunnah Nabi pada permasalahan yang tidak jelas ketetapannya di dalam kedua sumber hukum Islam.
Qiyas menurut bahasa dapat pula berarti :قدر artinya mengukur, membanding sesuatu dengan yang semisalnya. Contoh: قست الثوب بإذراع “Saya mengukur pakaian itu dengan hasta”. المساوة (Persamaan). Contoh: زيد يقاس علي (Zaid sama dengan Ali). الإعتبار (mengetahui dengan anggapan). Contoh: Saya mengqiyas ini dengan itu karena saya menganggapnya sama.
Ada beberapa defenisi tentang qiyas yang telah dikemukakan oleh para ulama Ushul Fikih, kadang berbeda rumusannya namun maksudnya tetap sama.
Wahbah al-Zuhaili mendefinisikan qiyas dengan :
إلحاق أمر غير منصوص علي حكمه الشرعي بأمر منصوص علي حكمه لإشتراكهما في علة الحكم.
“menyatukan sesuatu yang tidak desebutkan hukumnya dalam nash dengan sesuatu yang disebutkan hukumnya oleh nash, disebabkan kesatuan ‘illat hukum antara keduanya”.
Dari defenisi yang dikemukakan oleh ulama Ushul fikih dapat diambil gambaran bahwasanya qiyas sebagai:
Metode yang dapat menyingkap dan memperjelas bahkan menentukan sesuatu hukum, Illat adalah patokan utama dalam menetapkan hukum atau permasalahan, Obyek masalah adalah sesuatu yang tidak memiliki nash.
Kepustakaan:
M.Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, Yayasan Penyelenggara Penerjemah Penafsiran al-Qur’an, Jakarta: 1973. Cyril Glase, Ensiklopedi Islam, diterjemahkan oleh Ghufron A.Mas’adi, PT. Raja Grafindo Persada, 1996. Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, diterjemahkan oleh Saefullah Ma’shum, Jakarta: PT. Pustaka Firdaus, 1994. H.Nasrun Haroen,M.A., Ushul Fiqhi, Jakarta: Logos, 1996. Amir Syarifuddin, Ushul Fiqhi I,  Jakarta: Logos, 1997. Wahbah al-Zuhaily, Ushul Fiqhi Islam, Bairut: Dar al-Fikr, 1986.

Referensi Makalah; Indonesia dijajah Karena Sebuah Buku

Tahukah Anda bahwa karena sebuah bukulah maka bangsa Belanda bisa sampai di Nusantara dan melakukan penjajahan atas bumi yang kaya raya ini selama berabad-abad? Buku tersebut berjudul Itinerario naer Oost ofte Portugaels Indien, yang ditulis Jan Huygen van Linshoten di tahun 1595.
Inilah kisahnya:
Jauh sebelum Eropa terbuka matanya mencari dunia baru, warga pribumi Nusantara hidup dalam kedamaian. Situasi ini berubah drastis saat orang-orang Eropa mulai berdatangan dengan dalih berdagang, namun membawa pasukan tempur lengkap dengan senjatanya. Hal yang ironis, tokoh yang menggerakkan roda sejarah dunia masuk ke dalam kubangan darah adalah dua orang Paus yang berbeda. Pertama, Paus Urbanus II, yang mengobarkan perang salib untuk merebut Yerusalem dalam Konsili Clermont tahun 1096. Dan yang kedua, Paus Alexander VI.
Perang Salib tanpa disadari telah membuka mata orang Eropa tentang peradaban yang jauh lebih unggul ketimbang mereka. Eropa mengalami pencerahan akibat bersinggungan dengan orang-orang Islam dalam Perang Salib ini. Merupakan fakta jika jauh sebelum Eropa berani melayari samudera, bangsa Arab telah dikenal dunia sebagai bangsa pedagang pemberani yang terbiasa melayari samudera luas hingga ke Nusantara. Bahkan kapur barus yang merupakan salah satu zat utama dalam ritual pembalseman para Fir’aun di Mesir pada abad sebelum Masehi, didatangkan dari satu kampung kecil bernama Barus yang berada di pesisir barat Sumatera tengah.
Dari pertemuan peradaban inilah bangsa Eropa mengetahui jika ada satu wilayah di selatan bola dunia yang sangat kaya dengan sumber daya alamnya, yang tidak terdapat di belahan dunia manapun. Negeri itu penuh dengan karet, lada, dan rempah-rempah lainnya, selain itu Eropa juga mencium adanya emas dan batu permata yang tersimpan di perutnya. Tanah tersebut iklimnya sangat bersahabat, dan alamnya sangat indah. Wilayah inilah yang sekarang kita kenal dengan nama Nusantara. Mendengar semua kekayaan ini Eropa sangat bernafsu untuk mencari semua hal yang selama ini belum pernah didapatkannya.
Paus Alexander VI pada tahun 1494 memberikan mandat resmi gereja kepada Kerajaan Katolik Portugis dan Spanyol melalui Perjanjian Tordesillas. Dengan adanya perjanjian ini, Paus Alexander dengan seenaknya membelah dunia di luar daratan Eropa menjadi dua kapling untuk dianeksasi. Garis demarkasi dalam perjanjian Tordesilas itu mengikuti lingkaran garis lintang dari Tanjung Pulau Verde, melampaui kedua kutub bumi. Ini memberikan Dunia Baru kini disebut Benua Amerika kepada Spanyol. Afrika serta India diserahkan kepada Portugis. Paus menggeser garis demarkasinya ke arah timur sejauh 1.170 kilometer dari Tanjung Pulau Verde. Brazil pun jatuh ke tangan Portugis. Jalur perampokan bangsa Eropa ke arah timur jauh menuju kepulauan Nusantara pun terbagi dua. Spanyol berlayar ke Barat dan Portugis ke Timur, keduanya akhirnya bertemu di Maluku, di Laut Banda.
Sebelumnya, jika dua kekuatan yang tengah berlomba memperbanyak harta rampokan berjumpa tepat di satu titik maka mereka akan berkelahi, namun saat bertemu di Maluku, Portugis dan Sanyol mencoba untuk menahan diri. Pada 5 September 1494, Spanyol dan Portugal membuat perjanjian Saragossa yang menetapkan garis anti-meridian atau garis sambungan pada setengah lingkaran yang melanjutkan garis 1.170 kilometer dari Tanjung Verde. Garis itu berada di timur dari kepulauan Maluku, di sekitar Guam.
Sejak itulah, Portugis dan Spanyol berhasil membawa banyak rempah-rempah dari pelayarannya. Seluruh Eropa mendengar hal tersebut dan mulai berlomba-lomba untuk juga mengirimkan armadanya ke wilayah yang baru di selatan. Ketika Eropa mengirim ekspedisi laut untuk menemukan dunia baru, pengertian antara perdagangan, peperangan, dan penyebaran agama Kristen nyaris tidak ada bedanya. Misi imperialisme Eropa ini sampai sekarang kita kenal dengan sebutan “Tiga G”: Gold, Glory, dan Gospel. Seluruh penguasa, raja-raja, para pedagang, yang ada di Eropa membahas tentang negeri selatan yang sangat kaya raya ini. Mereka berlomba-lomba mencapai Nusantara dari berbagai jalur. Sayang, saat itu belum ada sebuah peta perjalanan laut yang secara utuh dan detil memuat jalur perjalanan dari Eropa ke wilayah tersebut yang disebut Eropa sebagai Hindia Timur. Peta bangsa-bangsa Eropa baru mencapai daratan India, sedangkan daerah di sebelah timurnya masih gelap.
Dibandingkan Spanyol, Portugis lebih unggul dalam banyak hal. Pelaut-pelaut Portugis yang merupakan tokoh-tokoh pelarian Templar (dan mendirikan Knight of Christ), dengan ketat berupaya merahasiakan peta-peta terbaru mereka yang berisi jalur-jalur laut menuju Asia Tenggara. Peta-peta tersebut saat itu merupakan benda yang paling diburu oleh banyak raja dan saudagar Eropa. Namun ibarat pepatah, “Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga”, maka demikian pula dengan peta rahasia yang dipegang pelaut-pelaut Portugis. Sejumlah orang Belanda yang telah bekerja lama pada pelaut-pelaut Portugis mengetahui hal ini. Salah satu dari mereka bernama Jan Huygen van Linschoten. Pada tahun 1595 dia menerbitkan buku berjudul Itinerario naer Oost ofte Portugaels Indien, Pedoman Perjalanan ke Timur atau Hindia Portugis, yang memuat berbagai peta dan deksripsi amat rinci mengenai jalur pelayaran yang dilakukan Portugis ke Hindia Timur, lengkap dengan segala permasalahannya.
Buku itu laku keras di Eropa, namun tentu saja hal ini tidak disukai Portugis. Bangsa ini menyimpan dendam pada orang-orang Belanda. Berkat van Linschoten inilah, Belanda akhirnya mengetahui banyak persoalan yang dihadapi Portugis di wilayah baru tersebut dan juga rahasia-rahasia kapal serta jalur pelayarannya. Para pengusaha dan penguasa Belanda membangun dan menyempurnakan armada kapal-kapal lautnya dengan segera, agar mereka juga bisa menjarah dunia selatan yang kaya raya, dan tidak kalah dengan kerajaan-kerajaan Eropa lainnya.
Pada tahun 1595 Belanda mengirim satu ekspedisi pertama menuju Nusantara yang disebutnya Hindia Timur. Ekspedisi ini terdiri dari empat buah kapal dengan 249 awak dipimpin Cornelis de Houtman, seorang Belanda yang telah lama bekerja pada Portugis di Lisbon. Lebih kurang satu tahun kemudian, Juni 1596, de Houtman mendarat di pelabuhan Banten yang merupakan pelabuhan utama perdagangan lada di Jawa, lalu menyusur pantai utaranya, singgah di Sedayu, Madura, dan lainnya. Kepemimpinan de Houtman sangat buruk. Dia berlaku sombong dan besikap semaunya pada orang-orang pribumi dan juga terhadap sesama pedagang Eropa. Sejumlah konflik menyebabkan dia harus kehilangan satu perahu dan banyak awaknya, sehingga ketika mendarat di Belanda pada tahun 1597, dia hanya menyisakan tiga kapal dan 89 awak. Walau demikian, tiga kapal tersebut penuh berisi rempah-rempah dan benda berharga lainnya.
Orang-orang Belanda berpikiran, jika seorang de Houtman yang tidak cakap memimpin saja bisa mendapat sebanyak itu, apalagi jika dipimpin oleh orang dan armada yang jauh lebih unggul. Kedatangan kembali tim de Houtman menimbulkan semangat yang menyala-nyala di banyak pedagang Belanda untuk mengikut jejaknya. Jejak Houtman diikuti oleh puluhan bahkan ratusan saudagar Belanda yang mengirimkan armada mereka ke Hindia Timur. Dalam tempo beberapa tahun saja, Belanda telah menjajah Hindia Timur dan hal itu berlangsung lama hingga baru merdeka pada tahun 1945.
Sumber: http://ihsanhasan.wordpress.com)
http://www.hariini.info/2011/07/04/indonesia-di-jajah-selama-3-5-abad-karena-sebuah-buku.html

Eksistensi Perempuan sebagai Pembawa Amanah

Manusia dapat dikatakan sebagai sumber dari kekuatan alam semesta, dimana alam semesta bergerak, berputar berevolusi karena pengaruh energy dari dalam tubuh manusia. Ketahuilah alam semesta adalah tubuh kita, dimana seluruh unsur yang terkandung dalam alam semesta dan seisinya terdapat dalam tubuh kita, seperti zat besi, oksigen, listrik, atom dll. Selain daripada unsur-unsur tersebut, ada satu anugrah istimewa yang diberikan Tuhan kepada manusia dan tidak dimiliki oleh makhluk lainnya yaitu kekuatan pikiran, dimana kekuatan pikiran manusia merupakan kekuatan yang paling fenomenal yang bisa mengubah kehidupan dan alam semesta. Saat ini beberapa ahli menemukan fakta bahwa
kejadian fenomenal pada ekologi dan kehidupan di bumi adalah pengaruh langsung dari ‘pikiran manusia’!.
Kenapa pikiran manusia sangat ampuh?. Karena pikiran manusialah yang mengontrol chakra (energi kehidupan) menjadi kekuatan semesta yang luar-biasa.
Setiap manusia pada dasarnya mempunyai potensi, yakni kemampuan untuk memperoleh “pengetahuan” tanpa melalui proses indrawi dan inteleksi. Hanya saja potensi itu berbeda-beda pada setiap orang sesuai dengan syiddah dan du’af yang ada dalam dirinya. Bahkan seringkali potensi itu tersembunyi dalam sudut ketidak sadarannya, sehingga tidak mampu teraktualisasi. Meski tidak secara implisit disebutkan, M. Alfatih mengungkapkan bahwa wanita akan lebih mudah menggapai atau merintis perjalanan spiritual, dibandingkan laki-laki, asumsi mendasarnya, wanita cenderung lebih mengetengahkan persaannya dari pada rasionalitasnya, dan seperti yang telah dipahami, perjalanan spiritual mengedepankan rasa meskipun pengetahuan pengantar dari thariqatnya memakai akal.
Hipotesa ini bukanlah berarti Islam menolak penggunaan akal dan indera sebagai dua alat pengetahuan. Ia hanya menolak jika keduanya dipandang bersifat absolut. Karena Alquran sebagai sumber ajaran Islam memang mengakui keberadaan dan fungsi akal namun tidak melupakan peranan hati atau batin sebagai alat pertimbangan di antara baik dan buruk; cantik dan jelek. Itulah sebabnya dalam perjalanan kehidupan pemikiran manusia, setidaknya ditemukan dua istilah yaitu ahli filsafat dan ahli tasawuf yang sering saling diperhadapkan bahkan dipertentangkan namun terkadang keduanya bertemu di akhir perjalanan yang sama.
Manusia yang terdiri dari laki-laki dan perempuan berdasarkan realita tidak memperoleh persamaan dalam mengepresikan potensinya. Bahkan bangsa-bangsa Romawi dan Yunani zaman dulu menganggap bahwa perempuan merupakan budak yang tidak memiliki hak sama dalam kehidupan, hal tersebut diamini oleh filosofi sekaliber Aristoteles dengan pendapat bahwa perempuan merupakan makhluk setengah jadi. Realita tersebut masih saja terlihat sampai saat ini. Apalagi kondisi tersebut didukung oleh teks-teks agama serta penafsiran yang cenderung tekstual dan sangat subyektif.
Menurut Muhammad al-Habsyi apa yang terjadi pada perempuan saat ini, menurutnya masih saja terasa sebagaimana yang terjadi pada masa lalu yaitu terkungkungnya kaumperempuan dalam kehidupan ritual agama yang sangat sacral dengan beberapa konsep dan aturannya, seperti adanya penindasan-penindasan bahkan mengarah pada usaha menyampingkan eksistensi kehidupan kaum perempuan dan hal itu terasa kuat dalam produk hukum Islam(syariat, fikih). Nyaris tidak ada asumsi kuat yang bisa disandangkan kepada kaum perempuan sebagai partner sempurna dalam kehidupan,tentu saja hal tersebut mempersulit di dalam usaha membudi dayakan kesetaraan bahkan mempersusah tumbuhnya emansipasi perempuan.
Sejarah pahit yang menimpa perempuan dan mengklaim sebagai beban hidup idealnya harus dibuang jauh-jauh dari ingatan setiap manusia saat ini. Karena itu perlu pengajaran akan keilmuan kepada perempuan untuk terus digalakkan sehingga anggapan bahwa wanita sebagai makhluk lemah akan dayanya dan seolah kurang berfikir dengan melihat realitas kurangnya pemikir yang termahsyur dari golongan perempuan.
Perlu disadari bahwa persoalan yang menjadikan kaum perempuan seakan terkekang oleh kehidupan kesehariannya adalah disebabkan oleh pola dan norma masyarakat sekitar yang terkesan adanya upaya pelembagaaan eksistensi kaum laki-laki. Sehingga persoalan yang ada dalam masyarakat harus ditangani oleh kaum laki-laki dan seakan tidak perlu campur tangan dari perempuan. Namun suatu kesyukuran karena anggapan tersebut sedikit demi sedikit mulai terkikis bahkan hampir hilang.
Olehnya itu, sekarang adalah saatnya untuk memperlihatkan eksistensi perempuan dengan kemanusiaannya dalam kehidupan keluarga dan sosial masyarakat. Wanita sebagai sosok yang luar biasa mampu mengembangkan diri dengan akal, hati dan jiwanya sehingga segala potensi yang terpendam dalam dirinya memancarkan cahaya Ilahi dan mampu memberi ketentraman bagi hamba-hamba di sekitarnya.
Dalam kehidupan, sang Pencipta memberikan anugerah, datangnya anugerah itu menurut kadar kesiapan jiwa, sedangkan pancaran cahayaNya menurut kadar kebeningan rahasia jiwa. Anugerah, berupa pahala dan ma’rifat serta yang lainnya, sesungguhnya tergatung kesiapan para hamba Allah. Rasulullah saw, bersabda:

“Allah swt berfirman di hari qiamat (kelak): “Masuklah kalian ke dalam syurga dengan rahmatKu dan saling menerima bagianlah kalian pada syurga itu melalui amal-amalmu.” Lalu Nabi saw, membaca firman Allah Ta’ala “Dan syurga yang kalian mewarisinya adalah dengan apa yang kalian amalkan.” (Az-Zukhruf: 72)

Adapan pancaran cahaya-cahayaNya berupa cahaya yaqin dan iman menurut kadar bersih dan beningnya hati dan rahasia hati. Beningnya rahasia hati diukur menurut kualitas wirid dan dzikir seseorang. Sejalan dengan pandangan Sayyid Qutub yang mengatakan bahwa dalam diri manusia terdapat “nur”, dan ibadah akan membuatnya lebih tajam dan terpancar.
Sosok permpuan karena unsur keperempuannya seperti kelembutan seorang ibu dalam mendidik anaknya, kesabaran seorang istri dalam mendampingi suaminya, keikhlasan serta kasih sayangnya yang selalu tercurah dalam keluarga akan mendekatkan kepada keilahian sehingga jika hal tersebut diletakkan sesuai dengan porsinya maka akan dinilai sebagai ibadah olehNya
Olehnya itu Kehidupan saat ini yang penuh kekerasan, ketidakadilan, penderitaan, kemiskinan harus dihapuskan dengan prinsip spiritual yang selalu mengedepankan kedamaian, kemanusiaan dan lebih mendekatkan diri pada sang Khalik sehingga tdk terjadi penindasan terhadap sesama.
Sekarang adalah waktunya bagi perempuan, memberikan hatinya untuk membangun dunia, membicarakan perdamaian, memberikan hati dan hasratnya yang penuh pada upaya menghapuskan kekerasan, ketidakdilan, kesewenang-wenangan agar kehidupan lebih manusiawi. Karena egoisme dan anarkisme bisa runtuh dengan cinta…
*Berbagai sumber

Material Makalah; Teknik Analisis

Kata teknik mengandung makna sebagai pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu. Istilah teknik hampir semakna dengan istilah metode, yaitu cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud ilmu pengetahuan.
Metode yang diharapkan, tentunya metode yang mempunyai out put yang bermanfaat dan sistimatis dalam uraiannya, yang harus direalisasikan secara kongkrit. Karenanya, metode sebagai suatu cara kerja, harus dijabarkan sesuai dengan alat dan sifat alat. Sifat alat yang dimaksud, disebut dengan teknik. Dalam hal ini teknik berarti cara membuat atau melakukan sesuatu.
Meskipun makna teknik dan metode di atas hampir sama, namun ada pula titik perbedaan yang membedakannya, jika dikatakan metode tafsir maka ia merupakan kerangka atau kaidah yang digunakan dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, sedangkan teknik adalah cara yang dipakai dalam rangka menerapkan kaidah yang telah tertuang dalam metode tersebut.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan, bahwa metode lebih luas cakupannya karena ia merupakan sebuah proses dalam mencapai suatu tujuan sedangkan teknik lebih bersifat operasional dan aplikasi dari sebuah proses, sehingga teknik merupakan bagian dari metode itu sendiri.
Kata “analisis” berasal dari bahasa Inggris analysis, yang berarti analisa, pemisahan atau pemeriksaan yang teliti. Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia, analisis berarti menguraikan suatu pokok atas berbagai bagiannya, dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antara bagian-bagian untuk memperoleh pengetahuan yang tepat dan pemahaman arti secara keseluruhan. Misalnya analisis data: menelaah atau mengurai data hingga diambil suatu kesimpulan.
Jadi, jika digabung kedua kata tersebut, maka yang dimaksud dengan teknik analisis adalah sistem (cara kerja) dengan menelaah serta mencermati bagian-bagian dari suatu pokok persoalan atau menelaah semua unsur dasar dari suatu pokok untuk memperoleh pemahaman dan kesimpulan. Jika teknik analisis dikaitkan dengan penafsiran al-Qur’an, maka merupakan suatu cara yang dilakukan dengan mengurai dan menelaah ayat-ayat al-Qur’an sehingga diperoleh suatu pemahaman dan kesimpulan.
Kepustakaan:
J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1984. Sudaryanto, Metode Linguistik, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1988. Nashruddin Baidan, Metodologi Penafsiran Al-Qur’an, Yogyakarta: Glagah UHIP, 1998. John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1993. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1988.

Problematika Islam di Prancis

Melanjutkan material makalah sebelumnya tentang Islam di Prancis, kali ini sedikit diuraikan bagaimana problematika dan posisi umat islam di sana.
Meskipun Islam telah berkembang pesat di Prancis dan umat islam hidup secara damai sesama intern umat Islam, bukan berarti bahwa umat Islam di sana hidup damai secara eksteren. Pluralisme masyarakat ekstern (non-muslim), adalah salah satu faktor utama memicu terjadinya konflik di tengah-tengah masyarakat, sekaligus merupakan problematika yang dihadapi oleh umat Islam Prancis dewasa ini.
Bermula dari peristiwa 11 September 2001 sebagai tragedi terdahsyat dunia di awal abad ke 21, maka seketika itu pula dua orang muslim Prancis bernama David dan Jerome yang barusan masuk Islam, ditahan karena tuduhan terlibat dalam jaringan terorisme internasional. Kasus dua pemuda mu’allaf tersebut diangkat sebagai bukti bahwa pemerintahan Prancis kelihatannya memiliki image (prasangka) negatif terhadap umat Islam yang menetap negara Prancis.
Lebih dari itu, tantangan berat yang dihadapi umat Islam Prancis adalah adanya pelarangan penggunaan Jilbab di sana. Program anti jilbab telah meluas hingga pengusiran muslimah berjilbab di Prancis benar-benar telah diberlakukan. Larangan berjilbab ini, dalam bentuk lain, juga di-berlakukan di berbagai kawasan Eropa lainnya dan di Amerika. Fenomena seperti ini, merupakan indikasi bahwa bangsa Eropa, termasuk Prancis memandang Islam sebagai makhātir (sesuatu yang bahaya).
Pertimbangan lain, masalah utama dibalik keluarnya undang-undang “pelarangan berjilbab” ialah ketakutan pemerintah negara-negara Barat terhadap semakin berkembangnya Islam negara-negara tersebut. Negara-negara Barat (termasuk Prancis) senantiasa berusaha untuk memburukkan citra Islam, di antaranya dengan menggambarkan bahwa Islam mengekang kaum muslimah dengan aturan-aturan agama yang ketat.
Samuneh Fur, seorang wanita Prancis berusia 65 tahun yang memeluk Islam pada tahun 1964 mengatakan; “undang-undang larangan berjilbab ditetapkan untuk menghalangi meluasnya pengaruh Islam di Prancis. Akan tetapi, anak muda muslim di Eropa kini menyambut jilbab dengan lebih baik dibandingkan dari waktu-waktu yang lampau dan hal ini menimbulkan ketakutan pada msyarakat Eropa”. Hal yang sama, Abu Athrus yang telah tinggal selama 40 tahun di Prancis dan mempunyai anak-anak yang berkewarganegaraan Prancis, berkata; “anak saya pergi ke sekolah dengan menggunakan jilbab karena itulah yang diperintahkan oleh Tuhan. Oleh karena itu, tidak ada undang-undang yang bisa menolak pakaian ini dan kami akan tetap melaksanakan aturan Tuhan ini.
Berdasar pada pernyataan kedua muslim Prancis di atas, maka dipahami bahwa kaum muslim di Prancis dewasa ini, tetap tampil membukti-kan kepatuhannya terhadap ajaran agamanya. Walaupun di sisi lain, ber-implikasi pada ada kenyataannya bahwa mereka (umat Islam) di sana mengalami berbagai hambatan dan problematika yang pelik.
Masih berdasar pada kenyataan di atas, maka dapat pula dipahami bahwa pelarangan berjilbab di Prancis, merupakan usaha Barat untuk memaksa umat Islam agar melanggar hukum agama mereka sendiri. Oleh karena itu, pelarangan berjilbab di Prancis merupakan sebuah ujian bagi umat Islam di Prancis secara khusus, dan sekaligus ujian bagi umat Islam di senatero penjuru dunia secara umum.
Implikasi lain yang ditimbulkan terhadap pengamalan ajaran Islam di Prancis menurut Abdul Salam Banesh, seorang warga Prancis asal Maroko yang merupakan imam masjid, mengatakan; “Islam selama ini telah di-perkenalkan sebagai musuh Barat, namun kini perkembangan Islam di Barat malah semakin meluas karena Islam merupakan agama yang komprehensif dan mampu menjawab berbagai persoalan kehidupan. Perkembangan Islam inilah yang membuat Barat ketakutan.” Lalu, timbul pertanyaan yang sangat mendasar, ada apa dengan Prancis ? negeri yang dipandang memiliki tradisi intelektual luar biasa dan tradisi demokrasi yang menyejarah ini, tiba-tiba takut akan eksistensi Islam di sana ?. Padahal, Islam di Prancis dari sense sejarahnya sungguh telah eksis berabad-abad silam dan penganut agama ini yang bermigran dari multikulturalisme dan multibangsa hidup secara toleran dengan masyarakat non-muslim Prancis.
Prancis harus ingat, bahwa terhadap sejarah kaum muslimin yang telah berjasa membebaskan Raja Prancis I dari tangkapan musuhnya pada pertempuran Pavia tahun 1525. Namun, Azyumardi Azra, menyatakan bahwa “kalau orang Prancis bertingkah sinis, itu memang sudah menjadi bagian sejarah mereka, tetapi kalau Yahudi berlaku sinis, barulah berita”. Berdasar pada pernyataan ini, kiranya sangat tidak bijak dan tidak arif, bilamana masyarakat dan apalagi pemerintah Prancis dewasa ini, tetap menganggap Islam sebagai musuh, serta menjadikan Islam sebagai agama yang termarginalkan.
Walaupun dalam kenyataannya pemerintah Prancis dan sebagian masyarakat non-Muslim Prancis tetap menganggap Islam sebagai sesuatu yang negatif, tentu dibalik itu semua memiliki nilai-nilai positif bagi citra Islam. Kenyataannya adalah, bahwa Islam di Prancis dewasa ini, tetap eksis, bahkan mampu bertahan hidup walaupun mereka harus berlawanan dengan masyarakat non-muslim pluralis yang sekuler.
Dalam praktik keagamaan sehari-hari, Aslam menyatakan bahwa aliran Islam di Prancis juga banyak mulai dari Wahabi, Salafi, Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tablig, dan lain-lain yang hidup dengan rukun. Namun, dalam pandangan penulis bahwa praktik keagamaan sehari-hari umat Islam Prancis tampak pada pola keberagamaan yang mayoritas menggunakan mażhab sunni karena mayoritas mereka berasal dari Afrika Utara yang kental dengan mażhab sunni.
Terbangunnya masjid-masjid di Prancis yang jumlahnya sampai 2.500 buah, juga merupakan salah satu indikasikan bahwa kaum muslim Prancis dewasa ini senantiasa geliat dan antusias dalam menjalankan ibadah-ibadah secara rutin, terutama shalat berjamaah. Praktis bahwa ajaran Islam yang lain, semisal puasa dan zakat juga terlaksana dengan baik. Wallahu a’lam.
Kepustakaan:
http://www.islam.lib.com/htm. Keterangan di atas, sesuai pula yang terdapat dalam Hj. Muliaty Amin, Hubungan Islam dan Barat Pasca 11 September 2001 makalah IAIN Alauddin, 2005. Lebih lengkapnya, lihat http://.www.yahoo.com/islamprancis/2.htm.http://www.yaho.com/islampranciz/e-011lamd/ep-lan12.htm Azyumardi Azra, Pergolatan Politik Islam; Dari Fundamentaslisme, Modernisme hingga Post-Modernisme, Jakarta: Paramadina, 1996. Lihat pernyataan Aslam dalam http://www.yahoo.com/prancis-dinasti/e-01lamd/ep-lan12.htm. http://www.yahoo.com/prancis-dinasti/e-01lamd/ep-lan12.htm
 

Fungsi Hukum sebagai Rekayasa Sosial

Untuk lebih meyakinkan akan adanya fungsi hukum sebagai alat rekayasa sosial, perlu diketengahkan pendapat Rusli Effendi (1991: 81), yang menegaskan bahwa “Suatu masyarakat di manapun di dunia ini, tidak ada yang statis. Masyarakat manapun senantiasa mengalami perubahan, hanya saja ada masyarakat yang perubahannya pesat dan ada pula yang lamban. Di dalam menyesuaikan diri dengan perubahan itulah, fungsi hukum sebagai a tool of engineering, sebagai perekayasa sosial, sebagai alat untuk merubah masyarakat ke suatu tujuan yang diinginkan bersama, sangat berarti”.
Penegasan Rusli Effendy tersebut, menunjukkan bahwa hukum sebagai rekayasa sosial sangat diperlukan dalam proses perubahan masyarakat yang di manapun senantiasa terjadi, apalagi dalam kondisi kemajuan yang menuntut perlunya perubahan-perubahan yang relatif cepat.
Fungsi Hukum sebagai rekayasa sosial ini, juga sering disebut sebagai a tool of engineering yang pada prinsipnya merupakan fungsi hukum yang dapat diarahkan untuk merubah pola-pola tertentu dalam suatu masyarakat, baik dalam arti mengokohkan suatu kebiasaan menjadi sesuatu yang lebih diyakini dan lebih ditaati, maupun dalam bentuk perubahan lainnya.
Sejalan dengan ini, Soleman B. Taneko mengutip pendapat Satjipto Rahardjo (1993) menyatakan bahwa

“Hukum sebagai sarana rekayasa sosial, innovasi, sosial engineering, menurut Satjipto Rahardjo, tidak saja digunakan untuk mengukuhkan pola-pola kebiasaan dan tingkah laku yang terdapat dalam masyarakat, melainkan juga untuk mengarahkan pada tujuan-tujuan yang dikehendaki, menghapuskan kebiasaan-kebiasaan yang dipandang tidak perlu lagi, menciptakan pola-pola kelakuan baru dan sebagainya”.

Fungsi hukum sebagai rekayasa sosial yang semakin penting dalam era pembangunan tersebut, ditegaskan oleh Muchtar Kusumaatmadja seperti yang dikutip oleh Soleman B. Taneko (1993: 36) mengemukakan bahwa “Di Indonesia fungsi hukum di dalam pembangunan adalah sebagai sarana pembangunan masyarakat. Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa adanya ketertiban dalam pembangunan merupakan suatu yang dianggap penting dan sangat diperlukan. Di samping itu, hukum sebagai tata kaidah dapat berfungsi untuk menyalurkan arah-arah kegiatan warga masyarakat ke tujuan yang dikehendaki oleh perubahan tersebut. Sudah tentu bahwa fungsi hukum di atas seyogianya dilakukan, di samping fungsi hukum sebagai sistem pengendalian sosial”.
Walaupun sejumlah ahli memberikan pandangan positif terhadap fungsi hukum sebagai rekayasa sosial, namun fungsi tersebut tidak luput dari kritikan atau kelemahannya. Terhadap tanggapan dimaksud, seperti dikemukakan oleh Daniel S. Lev yang dikutip oleh Achmad Ali (1996: 104), dengan menyatakan bahwa “membicarakan hukum sebagai rekayasa sosial itu berarti memberikan kekuasaan yang amat penuh kepada pemerintah. Kita selalu menggunakan istilah itu sebagai sesuatu yang netral, padahal dipakainya istilah itu sebenarnya tidak netral. Istilah itu dapat dipakai untuk tujuan yang baik dan dapat juga dipakai  untuk  tujuan yang buruk. Istilah itu sendiri mempunyai dua arti, pertama sebagai suatu prosedur, suatu cara untuk mengubah masyarakat, dan yang kedua yang teramat penting adalah secara materiil, yaitu masyarakat apa yang dikehendaki. Itu tidak mudah, kita harus bertanya macam masyarakat apa yang dikehendaki oleh pemerintah dan oleh warga masyarakat”.
Pandangan yang dikemukakan terakhir di atas, menunjukkan bahwa fungsi hukum sebagai rekayasa sosial mempunyai arti yang tidak selalu positif, dan bahkan dapat diartikan negatif, terutama karena ketidakjelasan arah yang akan dituju oleh hukum dalam merekayasa masyarakat yang bersangkutan.
Dengan mengemukakan sejumlah contoh, Achmad Ali (1996)  menyatakan adanya kerugian dan keuntungan fungsi hukum sebagai rekayasa sosial, seperti yang diungkapkannya bahwa “Contoh dampak positif penggunaan hukum sebagai rekayasa sosial antara lain :
  1. Putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat pada tahun 1954 yang menetapkan bahwa orang kulit hitam harus dipersamakan dengan orang kulit putih.
  2. Undang-Undang dan Peraturan-Peraturan lain mengenai lingkungan hidup. dan sebagainya.
Dampak negatif dari penggunaan hukum sebagai rekayasa sosial adalah yang hanya membawa keuntungan bagi sebagian kecil warga masyarakat dunia,  justru merugikan sebagian besar warga masyarakat lainnya”.
Dengan pandangan tersebut, maka dapat dikatakan, bahwa fungsi hukum sebagai sarana atau alat rekayasa sosial dalam aplikasinya perlu dilakukan secara ektra hati-hati, sehingga sejauh mungkin tidak membawa dampak negatif sebagaimana yang dikhawatirkan, dan bahkan jika perlu dalam pelaksanaannya benar-benar tidak akan melahirkan dampak seperti tersebut.
*Berbagai sumber