Selamat datang di web kuliahgratis.net

Categories

Archives

Metode Qiyasiyah dalam Pembelajaran Ilmu Nahwu

Pembelajaran dalam metode ini pada dasarnya menjelaskan terlebih dahulu kaedahnya, setelah siswa dapat memahami metode tersebut, mereka kemudian diminta untuk menghafalkan metode tersebut kemudian setelah melalui dua tahapan ini maka siswa diberikan contoh mengenai permasalahan yang telah dibahas. Setelah siswa menguasai dengan baik materi yang diberikan, guru memberikan lagi contoh lain yang lebih sulit dari contoh sebelumnya. Metode ini dalam metode Herbert juga disebut metode berfikir deduktif.1
Salah satu metode yang merupakan pengembangan dari metode qiyasiyah ini yaitu ditingkatan selanjutnya siswa disuruh membaca kitab-kitab klasik kemudian menjelaskan kedudukan dari setiap kata yang dibacanya. Sehingga dengan metode ini siswa diharapkan mampu menguasai dan memahami kitab-kitab klasik dengan baik.
Adapun kitab nahwu yang bisa dijadikan pedoman untuk lebih mempermudah menerapkan metode qiyasiyah ini adalah kitab an-Nahwu al-Wafy karya Abbas Hasan, kitab al-Jami’ ad-Durus al-‘Arabiyah karya al-Galayayni, dan kitab Qawaid al-Lughah al-‘Arabiyah litalamidzi al-madaris ats-Tsanawiyah karya Hafni Nasif.2
Kepustakaan:
[1] Muhammad Abdul kadir Ahmad, Thuruq at-Ta’lim al-Lughah al-‘Arabiyah, (Cet. I; Dar asy-Syabab li-Thaba’ah: Kairo, 1979), h. 191
[2] Ibid

Pembahasan Tentang Ilmu

Secara etimologi, ilmu berasal dari bahasa Arab: ‘alima, ya’lamu, ‘ilman, dengan wazan fa’ila, yaf’alu, yang berarti: mengerti, memahami benar-benar, seperti ungkapan: علم اصموعى درس الفلسفة “Asmu’I telah memahami pelajaran filsafat”.Dalam bahasa Inggris disebut science; dari bahasa Latin scienta (pengetahuan)­ scire (mengetahui).
Sinonim yang paling dekat dengan bahasa Yunani adalah episteme. Jadi pengertian ilmu yang terdapat dalam kamus bahasa Indonesia adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu.
Adapun menurut terminologi, beberapa ahli diantaranya Muhammad Hatta, mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, baik kedudukanya tampak dari luar, maupun menurut bangunannya dari dalam.
Ralp Ross dan Ernest Van Den Haag, mengatakan ilmu adalah yang empiris, rasional, umum dan sistematik, dan keempatnya serentak.Karl Pearson, mengatakan ilmu adalah lukisan atau keterangan yang kemperehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman drngan istilah yang sederhana.
Ashley Monragu, Guru Besar Antropologi di Rutgers University menyimpulkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu system yang berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk menemukan hakikat prinsip tentang hal ;yang sedang dikaji.
Harsojo, Guru Besar Antropologi di Universitas Padjajaran, menerangkan bahwa ilmu merupakan akumulasi pengetahuan yang disistemasikan. Suatu pendekatan atau metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris, yaitu dunia yang terikat oleh factor, ruang dan waktu, dunia yang pada prinsipnya dapat diamati oleh panca indra manusia. Suatu cara menganalisis yang mengizinkan kepada ahli-ahlinya untuk menyatakan suatu proposisi dalam bentuk:”Jika…,maka…”.
Afanasyef, seorang pemikir Marxist bangsa Rusia mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan menusia tentang alam, masyarakat, dan pikiran, Ia memikirkan alam dan konsep-konsep, kategori dan hukum-hukum, yang ketetapannya dan kebenarannya diuji dengan pengalaman praktis.
Dari keterangan para ahli tentang ilmu di atas, Amsal Bakhtiar menyimpulkan bahwa ilmu adalah sebahagian pengetahuan yang mempunyai ciri, tanda, syarat tertentu, yaitu sistematik, rasional, empiris, universal, objektif, dapat diukur, terbuka, dan kumulatif (bersusun timbun).
Menurut perumusan dalam The World of Science Encyclopedia, metode ilmiah pada umumnya diartikan sebagai prosedur yang digunakan oleh ilmuwan-ilmuwan dalam pencarian yang sistematis terhadap pengetahuan baru dan peninjauan kembali pengetahuan yang telah ada.
Para ilmuwan dan filsuf memberikan pula berbagai perumusan mengenai pengertian metode ilmiah, diantaranya: George Kneller: metode ilmiah adalah struktur rasional dari penyelidikan ilmiah yang di situ pangkal-pangkal duga disusun dan diuji.Arturo Rosenblueth: metode ilmiah adalah prosedur dan ukuran yang dipakai oleh ilmuwan-ilmuwan dalam penyusunan dan pengembangan cabang pengetahuan khusus merekaHarold Titus: Metode ilmiah adalah proses-proses dan langkah-langkah dengan itu ilmu-ilmu memperoleh pengetahuan.
Prosedur yang merupakan metode ilmiah sesungguhnya tidak hanya mencakup pengamatan dan percobaan seperti dikemukakan dalam salah satu definisi di atas. Masih banyak macam prosedur lainnya yang dapat dianggap sebagai pola-pola metode ilmiah, diantaranya adalah analisis, deskripsi, klasifikasi, pengukuran, perbandingan, dan survey.
Ilmu Sebagai ProdukCarles Siregar menyatakan: “ilmu adalah proses yang membuat pengetahuan”.
Adapun Jujun S. Suriasumantri dalam buku Ilmu dalam persperktif menulis.”…ilmu lebih bersifat merupakan kegiatan daripada sekedar produk yang siap dikonsumsikan”.Dalam memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai ilmu dalam kaitannya sebagai produk penulis tidak mendapatkan referensi yang lebih spesifik mengenai hal tersebut, tetapi dalam bukunya The Liang Gie yang berjudul pengantar Ilmu Filsafat disebutkan ilmu sebagai produk akan melahirkan pengetahuan yang sistematis. Dan dari pengetahuan yang sistematis inilah kemudian melahirkan cabang-cabang ilmu pengetahuan misalnya antropologi, biologi, geografi, atau sosiologi.
*Berbagai sumber

Pengertian al-‘Afwu

Term al-‘afwu berasal dari akar kata عفا، يعف، عفوا، العفوة arti-nya: mema’afkannya, mengampuni dosanya.1 Pada mulanya term al-‘afwu tersebut berarti “berlebihan”.2 Kemudian, dalam al-Munjid fī al-Lugah dikatakan bahwa term a-‘lafwu dimaknakan denganعفوة الشيئ صفوته أى ما رفع من المرق أولا يخص به من يكرم3 (menyembuhkan sesuatu yang bersih pada pada [diri] nya. Yakni, melenyapkan [dirinya]dari kebejatan yang sejak awal melekat pada dirinya, kemudian ia memuliakan orang secara khusus).
Dapat dipahami bahwa al’afwu secara etimologibisa berarti mema’afakan atau memberi maaf kepada orang lain; juga dapat berarti menahan diri, menghapuskan dan menggurkan kesalahan orang lain pada dirinya.
Jika pengertian al’afwu diterminologikan berdasarkan ayat-ayat Alquran, maka ia memiliki berbagai makna konotatif. Di antaranya adalah “meninggalkan” atau “mengabaikan”;4 “meringankan” atau “memudahkan” dan “memperluas”;5 “kelebihan”;6 dan makna terakhir adalah “menambah banyak”.7
Dapatlah dirumukan bahwa al-‘afwu secara terminologi adalah sikap memberi maaf dengan lapang dada, yakni meringankan dan menggugurkan kesalahan orang lain pada dirinya, serta tidak menyimpan rasa dendam atau sakit hati dalam pergaulan antar manusia.
Batasan pengertian yang lebih luas lagi adalah bukan saja berlaku dalam bentuk pergaulan antar manusia, tetapi juga berlaku antara Allah dan hamba-Nya. Dalam terminologi yang pertama, manusia memberi pemaafan antar sesamanya atau sebaliknya. Sedangkan dalam terminologi yang kedua adalah bahwa Allah memberi pemaafan kepada manusia.
Terminologi pemaafan antara sesama manusia, disebut dengan al-‘afwu. Sedangkan terminologi pemaafan Allah kepada manusia adalah al-maghfirah.
Kepustakaan:
[1] Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia (Jakarta: Hidakarya Agung, 1992), h. 273
[2] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an; tafsir Mawdhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Cet. VII; Bandung: Mizan, 1998), h. 246.
[3] Louis Ma’lūf, AL-Munjid fī al-Lugah (Cet. XX; Bairūt; Dār al-Masyriq, 1977), h. 517
[4] Lihat QS. al-Baqarah (2): 109; 178 dan 237
[5] Lihat QS. al-Baqarah (2): 187
[6] Lihat QS. al-Baqarah (2): 219.
[7] Lihat QS. al-A’rāf (7): 95

Pengertian Negara Menurut Terminologi Islam

Negara dalam terminologi secara umum, melahirkan beberapa pengertian. Namun, negara dalam terminologi Islam yang diistilahkan dengan dawlah, pengertiannya selalu merujuk pada al-Quran yang menggunakan term al-balad dan derivasinya. Kata al-balad secara leksikal berarti tinggal di suatu tempat, kota atau daerah, dan negeri. Kata al-balad yang berarti kota ditemukan dalam QS. al-Balad (90): 1-2, yakni : لَا أُقْسِمُ بِهَذَا الْبَلَدِ،وَأَنْتَ حِلٌّ بِهَذَا الْبَلَدِ (Aku benar-benar ber-sumpah dengan kota ini (Mekah), dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini). Sedangkan derivasi kata al-balad yang berarti negeri ditemukan dalam QS. al-Fajr (89):11, yakni ; الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ (yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri ini). Pengertian yang sama, juga terdapat dalam QS. al-Furqān (25): 49, yakni ; لِنُحْيِيَ بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا وَنُسْقِيَهُ (agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri yang mati).
Negeri yang juga dapat diartikan negara (al-bilad), disebut dalam al-Quran dengan berbagai bentuknya sebanyak 19 kali dengan perincian: kata balada disebut sebanyak 8 kali, kata baladan 1 kali, kata biladi 5 kali, sedangkan kata baldatun disebut sebanyak 5 kali, yang kesemuanya berarti negara/negeri.
Untuk menemukan pengertian negara dalam perspektif Islam, terlebih dahulu harus merujuk pada unsur-unsur negara itu sendiri. Dalam hal ini, al-Mawardi menyebutkan unsur-unsur negara sebagai berikut :
  1. Dalam negara ada agama yang dihayati. Agama yang diperlukan sebagai pengendali hawa nafsu dan pengawas melekat atas hati manusia, karenaya merupakan sendi sekaligus unsur yang terkuat bagi kesejahteraan dan ketenangan negara.
  2. Dalam negara, ada penguasa yang berwibawa.
  3. Dalam negara, harus ada keadilan yang menyeluruh.
  4. Dalam negara, harus tercipta keamanan yang merata.
  5. Dalam negara, terwujud kesuburan tanah.
  6. Dalam negara, ada generasi.
Ibn Abi Rabi’ berpendapat bahwa untuk mendirikan negara diperlukan beberapa dua unsur dan sendi. Pertama, harus ada wilayah di dalamnya, terdapat terdapat air bersih, tempat mata pencaharian, terhindar dari serangan musuh, jalan-jalan raya, tempat shalat di tengah kota, dan pasar-pasar. Kedua, harus ada raja atau penguasa sebagai pengelola negara yang akan menyelenggarakan segala urusan negara dan rakyat.
Kepustakaan:
Edward, Paul. (Editor in Chief), The Encyclopedia of Philosophy, (New York: Macmillan Publishing Co. Inc. & The Free Press 1997). Encyclopedia Americana, (Danbury: Glorier Incorporated, 2001). David Apter, Rethinking Development; Modernization Dependencei and Postmodern Politic (New York: Colombia University Press,1987). W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1996). Rahmat dan M. Halimi, Tata Negara (Bandung: Ganeca Exac, 1996). ‘Abd. Hamid Isma’il al-Ansariy, Nidzam al-Hukm fi al-Islam (Qatar: Dār al-Qatariy bin al-Faja’, 1985). M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Qur’an al-Karim; Tafsir atas Surat-surat Pendek Ber-dasarkan Turunnya Wahyu (Bandung: Pustaka Hidayah, 1997). Ahmad Warson al-Munawwir, Kamus Arab Indonesia (Cet. IV; Surabaya: Pustaka Progresif, 1997). Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci al-Qur’an, 1992). Muhammad Fu’ad ‘Abd. al-Baqy, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Qur’an al-Karim (Bairut: Dar al-Fikr, 1992). Ibn Abi Rabi, Suluk al-Malik fi Tadbir al-Mamalik (Kairo: Dar al-Sya’bah, 1970).

Nilai Normatif dengan Penalaran Reflektif

Nilai normatif dalam Islam terkandung dalam wahya Ilahi terhimpun dalam al-Quran dan Sunnah Nabi. al-Quran dan Sunnah diyakini oleh setiap pribadi muslim sebagai sumber kebenaran yang absolut transenden dan universal. Konsep teoritik ilmiah adalah hasil telaah ilmuan terhadap fakta-fakta empirik yang disusun dalam tata-pikir logik, metodik dan sistimatik kemudian dikonstruksi suatu teori.
Bila seorang hanya berada dalam wilayah berfikir normatif yang sendirinya menggunakan penalaran deduktif, yaitu kebenaran normatik dijadikan premis mayor, maka penelitian empirik yang dilakukan hanya untuk mencocokkan bukti empirik pada premis mayor (dari ayat al-Quran atau nilai Islam tertentu). Penelitian empirik yang dilakukan bukan untuk merubah premis mayor sebab sudah mutlak kebenarannya, tetapi premis mayor berfungsi untuk “menghakimi” bukti empirik yang dihimpun. Hasil yang dicapai dalam penalaran ini bukan untuk mengembangkan ilmu dengan terobosan-terobosan baru, tetapi hanya membenahi apa yang ada.
Perbedaan berikutnya, adalah penalaran deduktif dapat menghasilkan konsep-konsep teoritik yang banyak, dengan kata lain, akan padat teori tetapi miskin terapan. Sebaliknya, penalaran induktif berakibat miskin teori tetapi kaya terapan.
Noeng Muhajir menawarkan satu model penalaran yang disebutnya: penalaran reflektif yaitu bolak balik antara induktif dengan deduktif. Satu catatan, bahwa bila dalam penalaran deduktif, nilai-normatif al-Quran berfungsi menghakimi fakta empirik, tetapi tidak berarti bahwa dalam penalaran induktif; bukti empirik akan menghakimi nilai normatif ayat al-Quran itu. Dalam penalaran induktif ayat-ayat al-Quran berfungsi mempertajam konseptualisasi, memperdalam pemaknaan dan memperkokoh proposisi yang disajikan (Noeng Muhajir, 1989:5). Dalam posisi ini, ayat al-Quran berperan sebagai tempat berkonsultasi yaitu tempat mengkonsultasikan temuan-temuan empirik yang diperoleh. Pandangan Noeng Muhadjir ini dapat diberi nama paradigma konsultatif. Peranan al-Quran sebagai tempat berkonsultasi, berarti tetap menempatkan al-Quran dalam strata yang lebih tinggi.
Masalah yang timbul dalam paradigma ini, adalah bagaimana jika temuan-temuan empirik tidak sejalan dengan al-Quran? Meskipun dikatakan, bahwa al-Quran tidak bertentangan dengan fakata ilmiah, tetapi tetap saja ilmu pengetahuan adalah produk manusia yang bisa keliru. Untuk mengatasi masalah ini ditempuh beberapa alternatif: (1) Melakukan reniok atas fakta empirik untuk renkonstruksi teori yang ditemukan, atau (2) Melakukan reintrepretasi terhadap ayat-ayat al-Quran sepanjang tidak keluar dari ruh al-Quran, atau (3) Melakukan fasilitas atas temuan ilmiah. Apakah ketiga cara ini masih disebut ilmiah? Seorang Muslim mempunyai sikap bahwa keimanan pada al-Quran sebagai kebijaksanaan tertinggi dari Allah; manusia adalah mahluk dhaif belum mampu menangkap makna yang dalam pada ayat al-Quran itu. Dalam ilmu pengetahuan ada yang disebut: valid by authority, karena yang menemukan suatu teori adalah pakarnya, maka kita sering begitu saja menerima teori atau tesanya tanpa kritik. Dengan keimanan kepada Allah; Pakar segala Pakar, maka kita menerima begitu saja sabda Pakar segala Pakar itu (Noeng Muhajir, 1989:12).
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Muhadjir, Noeng. Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta, 1990.
————, Penelitian: Integrasi Wawasan dan Pluralisasi Operasi, T.tp: t.p. T.th.

Realitas dan Teori sebagai Mitos

Sebuah teori memiliki seperangkat proposisi atau pernyataan yang membangun teori tersebut. Sebagai contoh, teori gerak Newton terdiri dari empat proposisi: tiga proposisi yang terkenal sebagai hukum gerak Newton dan satu proposisi tentang hukum gravitasi. Keempat proposisi ini semua terbukti benar dan menjadi pendukung kuat kebenaran teori gerak Newton sebagai teori yang ilmiah.
Dalam pandangan hubungan antara teori sebagai mitos dan realitas senyatanya, filsafat sains memiliki dua aliran besar, yaitu positivisme ekstrim dan positivisme moderat. Keduanya merupakan positivis karena menekankan pada nalar dan logika dalam mencari fakta dan untuk menerima teori (Psillos, 2007:184).
Positivisme ekstrim atau positivisme garis keras memandang proposisi-proposisi yang menyusun sebuah teori, seluruhnya harus dianggap mitos dan dibuktikan kebenarannya (Barrett, 2011). Dengan kata lain, sebuah teori yang ilmiah haruslah teori yang isomorfisme yaitu memiliki korespondensi satu-satu dengan realitas. Positivisme moderat sebaliknya, cukup beberapa proposisi saja dalam sebuah teori yang perlu dibuktikan dan proposisi lainnya cukup diimani saja sebagai bagian yang tak dapat lepas dari perangkat teori yang telah terbukti sebagian kebenarannya tersebut (Frank, 1955:291-2).
Teori ilmiah dalam perspektif positivisme moderat cukup bersifat homomorfisme yaitu sebagian saja yang berkorespondensi dengan realitas (Everett, 1973:133). Dalam wacana positivisme moderat, maka sains akan penuh dengan teori-teori tidak sempurna dalam pandangan positivisme garis keras. Sementara itu, bagi positivisme moderat sendiri, desakan agar seluruh proposisi sebuah teori sains dibuktikan akan memiskinkan sains karena beberapa teori yang telah dipandang ampuh walaupun masih terjelaskan parsial, akan diusir keluar dari sains.

Nilai Normatif dengan Paradigma Genetik

Kuntowijoyo dalam merefleksi nilai normatif dengan paradigma genetik. Paradigma ini berangkat dari konsep normatif agama kemudian diturunkan menjadi ideologi dan konsep teoritik ilmiah. Model ini berangkat dari asumsi, bahwa bila ilmu-ilmu teoritik empirik dapat meningkat ke taraf normatif (seperti: teori ekonomi Marxist menjadi Komunisme), maka dapat sebaliknya; konsep normatif agama dapat diturunkan menjadi konsep teoritik ilmiah. dalam kaitan ini, Kuntowijoyo menjelasan:
Pada tingkatan yang normatif, Islam merupakan seperangkat sistem nilai koeheren yang terdiri atas ajaran-ajaran wahyu, yaitu yang merupakan kriteria kebenaran absolut dan bersifat transendental. Untuk dapat beroperasi sebagai acuan aksiologis, sebenarnya konsep normatif Islam yang berakar pada sistem nilai wahyu ini dapat diturunkan melalui dua medium, yakni ideologi dan ilmu. Agama menjadi ideologi karena ia tidak hanya mengkonstruksi realitas, tetapi juga memberikan motivasi etris dan teologis dan ilmu. Agama menjadi ideologi karena ia tidak hanya mengkonstruksi realitas, tetapi juga memberikan motivasi etis dan teologis untuk merombaknya. Ideologi dengan demikian merupakan derivasi normatif yang diturunkan menjadi aksi. Tetapi dilain pihak, agama juga dikembangkan menjadi ilmu dengan merumuskan dan menjabarkan konsep-konsep normatifnya pada tingkat-tingkat yang empirik dan objektif. Dengan kata lain, nilai-nilai normatif tidak dijabarkan menjadi ideologi untuk aksi, tetapi dirumuskan menjadi teori untuk aplikasi” (Kontowijoyo, 1991: 37).
Kuntowijoyo tidak hanya melihat ajaran Islam semata-mata dalam bentuknya yang normatif yang diwujudkan dalam kegiatan ritual yang rutin, tetapi dimensi normatif itu diobyektivikasikan ke dalam dunia empirik-rasional sebagai acuan untuk menanta konsep teoritik ilmiah. Contoh yang dapat dikemukakan di sini antara lain: ajaran zakat. Dari sini normatifnya ajaran zakat memerintahkan untuk mengasihani fakir miskin dan anak yatim, dengan tujuan subyektifnya adalah zakat membersihkan jiwa dan harta. Tetapi ajaran zakat tersebut dapat pula dilihat sisi obyektifnya, yaitu zakat dapat menjadi landasan menyusun konsep teoritik tentang sosial ekonomi Islam, bahwa Islam mengakui kelas sosial misalnya, dalam al-Quran ada kelompok al-fuqara’, al-masakin, al-dhu’afa’, al-mustadh’afin dan kelompok al-aghniya’ dan al-mustakbirin. Al-Quran mengabdikan kelas-kelas sosial itu sebagai gambaran faktual sebagaimana yang terjadi dalam masyarakat. Akan tetapi kelas sosial itu bukan bersifat kontradiksional seperti dalam masyarakat komunisme dan bukan pula hasil “kompetisi-bebas-sempurna” seperti dalam masyarakat Kapitalis, tetapi lebih bersifat “fungsional”. Fungsional, dalam arti masing-masing kelompok mempunyai orientasi untuk proses integratif, yang bukan semata-mata ditegakkan atas keadilan produktif, tetapi juga keadilan distributif.
Aspek normatif dalam zakat bertujuan untuk transformasi psikologis untuk menciptakan pribadi muslim (Islamic personality), sedangkan aspek obyektifnya (tempat menyusun konsep teoritik ilmiah) bertujuan untuk transformasi sosial (Kontowijoyo, 1991: 329).
Paradigma genetik yang ditawarkan Kuntowijoyo hanyalah salah satu alternatif mengembangkan ilmu-ilmu sosial Islam. Akan tetapi masalah yang timbul, adalah: bila aspek teoritik ilmiahnya dilepaskan dari aspek normatifnya memungkinkan timbulnya ilmu sosial sekuler. Kekhawatiran ini dikemukakan oleh A.E.Priyono, bahwa Kuntowijoyo ingin mengembangkan ilmu agama sekuler (Kontowijoyo, 1991: 36).
Kepustakaan:
Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi,Bandung, 1991.